Langsung ke konten utama

ANAK-ANAK MANUSIA DI BAWAH KOLONG LANGIT YANG SAMA

Anak-anak manusia di bawah kolong langit yang sama
Dalam takdir berbeda-beda
Bermain-main dalam dunia
Dalam lautan warna-warna rasa

Anak-anak manusia di bawah kolong langit yang sama
Dalam lautan warna-warna rasa
Berlomba-lomba menjadi juara
Dalam kilau-kemilau dunia

Anak-anak manusia di bawah kolong langit yang sama
Dalam kilau-kemilau dunia
Bergelut-gemelut dalam hampa
Dalam bulan-bulanan rasa sakit yang sama

Anak-anak manusia di bawah kolong langit yang sama
Dalam takdir berbeda-beda
Berlomba-lomba dengan waktu
Mengejawantahkan kata bahagia

Sekali ini aku melihat anak-anak manusia di bawah kolong langit yang sama dan mereka semua masih bermain, berlomba, dan bergelut dalam kebahagiaan (yang mungkin tak pernah ada).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ayah Bukan Malaikat

Aku melihat bayangannya yang sudah separuh menghilang tenggelam dalam pekat. Ingin aku menahannya namun aku tidak kuasa. Dia telah menjauh. Ujung mantel panjangnya yang hitam berkibar diterpa angin. Mengibas-ibas pikiranku tanpa arah. Namun dia tak peduli dan terus melangkah hingga akhirnya ia benar-benar ditelan oleh malam. “Menemui orang itu lagi?” Sebaris pertanyaan itu menyambut aku yang baru saja menginjakkan kaki di ruang tamu. Aku memilih untuk tidak menjawab pertanyaan itu dan langsung duduk di atas kursi sofa. Kuletakkan tas ransel besar yang membebani pundakku sedari tadi. Dengan segera terdengar derap langkah yang menghampiriku. “Kenapa kamu selalu tidak pernah menjawab pertanyaan Ibu?” Aku memalingkan muka, berusaha tidak memandang wajah wanita yang matanya melotot ini. Sudah selayaknya aku tidak ikut terbawa emosi negatif dari wanita ini. Semenit kemudian wanita ini telah menyerah untuk mendesak aku menjawab pertanyaannya. Tampaknya ia menyadari kesalahan besar yang d...

Aku Pria | Wanita Aku

Aku punya mimpi suatu hari manusia tidak lagi terkotak-kotak.  Tersudut dalam dua buah pilihan. Pilihan antara laki-laki atau perempuan... Aku tertunduk diam saja ketika dia mulai meracau dengan kata-katanya yang tidak jelas. Benar tubuhku ada di sana, namun pikiranku memberontak untuk dikendalikan ia terbang bersama angin semilir yang membelai tubuhku sedari tadi. Kuliah “Baik, ayo yang cewek angkat tangan semua!  Pindah ke sebelah sini. Sisanya yang cowok-cowok pindah sebelah sana! Ayooo…buruaaaannnn!!!! “ “Lho kamu, kamu kok diam di tengah situ, ayo pindah!” “Pindah ke mana?” “Ke kanan atau kiri saya, dong. Pilihannya cuma dua, mau ke mana lagi???” “Tapi saya bingung, mau ke kanan atau ke kiri…” “Aduh!!! Ini anaknya siapa sih? Ayo mentornya ditangani  dong , pusing  deh !!!” “ Eh  kamu, liat mata saya, denger baik-baik apa yang saya katakan, jangan buat saya marah. Kalau kamu cowok cepat pindah sebelah kiri saya, kalau kamu cewe...